afoezMuhammad Mahfuz Abdullah, itu nama saya. Panggil saja, Afoez. Saya menyenangi tulisan esai, ringan, politik dan ekonomi juga. Saya juga senang kritik dan saran-saran untuk perbaikan dalam tulisan saya.
|
 |
Monday, February 06, 2006
Sampah Kampus Berebut Daftar CPNS
Sampai kemarin, sedikitnya ada 2.000 pelamar CPNS dari kelompok umum di Kota Banjarbaru. Jumlah ini akan meningkat pada saat menjelang penutupan, dan diperkirakan mencapai 4.000 orang. Seluruh Kalsel, diperkirakan akan mencapai 20 ribu pencari kerja yang memperebutkan formasi CPNS tahun 2006 ini. Mengapa jumlah pencari kerja ini begitu besar?
Kalau pertanyaan itu disampaikan kepada Robert T Kiyosaki, penulis buku best seller “Rich Dad, Poor Dad” maka akan dijawab dengan gampang. “Sekolah tidak mengajarkan melek finansial, sehingga mereka lebih memilih menjadi buruh sumur hidupnya. Mereka mengira menjadi pegawai pemerintah bisa pensiun dengan tenang, nyatanya dana pensiun mereka tidak akan cukup membiayai hari tua mereka,” begitu kira-kira jawaban Robert T Kiyosaki.
Kalau pertanyaan serupa disampaikan kepada Levi Strauss, pemegang merk jins Levi’s maka akan dijawab hanya sangat sedikit orang yang berani tampil beda. Sehingga banyak orang mengambil jalan meniru orang lain.
*
Dunia kampus yang dilalui oleh hampir seluruh mahasiswa cendrung tidak memberikan banyak keahlian bagi para lulusannya dalam mencari uang. Makanya, menjadi pekerja atau buruh adalah pilihan yang paling banyak digeluti pasca pendidikan.
Dalam banyak hal, dunia kampus tidak menempa mahasiswa menjadi sosok yang bisa diharapkan. Betapa tidak, sistem pendidikan yang lebih memilih generalism pengetahuan justru tidak menjadikan mahasiswa menguasai satu bidang pun. Dalam budaya Belanda, pendidikan di Indonesia sering disindir dengan ungkapan ”tahu sedikit tentang banyak hal, tetapi tidak menguasai satupun”.
Faktanya, dunia kampus tidak melahirkan mahasiswa mandiri yang dengan keyakinan akan ilmu yang diperolehnya mampu menjadi pioner yang dapat menggerakkan masyarakat pada perubahan. Kampus sepertinya memanjakan para mahasiswa dan mahasiswi dan lebih mengedepankan pergaulan ketimbang berkompetisi menjadi ilmuan yang idealis.
Syahdan. Kalau mencari-cari hal-hal buruk dari keluaran kampus, tentu kita menemukan oknum pejabat yang korup. Oknum aparat penegak hukum yang menjual belikan hukum. Pengacara, pengusaha, politikus yang jadi wakil rakyat, wartawan juga, serta ratusan profesi lainnya yang merupakan produk kampus. Begitu banyak produk kampus ini yang tidak sesuai dengan idealisme kampus.
Dari tinjauan kampus sendiri, begitu banyak perguruan tinggi yang berlaku sebagai pabrik. Mengeksploitasi mahasiswa-mahasiswi tanpa mempedulikan produk pendidikan mereka. Bahkan, banyak juga perguruan tinggi yang menampung mahasiswa-mahasiswi dalam satu jurusan tanpa memperhatikan apakah sudah punya legalitas atau belum.
Kita pantas prihatin. Begitu banyak pelamar kerja, khususnya CPNS ini dari lulusan perguruan tinggi lantaran mereka tidak cukup pandai memanfaatkan ilmu pengetahuan yang diperoleh untuk menopang hidup.
Kampus sepertinya hanya membuang mereka seperti sampah ketika telah memperoleh ijazah, surat tanda putus hubungan dengan lembaga pasca wisuda. Kita kebanjiran sampah-sampah kampus.***
Posted at 02:20 pm by afoez
Permalink
Wednesday, January 25, 2006
Berita bakso mengandung formalin, boraks dan daging tikus benar-benar memukul pelaku ekonomi kecil. Dunia usaha mikro banyak yang bangkrut. Di tengah kelesuan pasar, para pengusaha ini masih sempat-sempatnya dimanfaatkan oleh pejabat. Kampanye makan bakso. Ribuan mangkok bakmi dan bakso disajikan gratis.
Bayangkan betapa menyedihkannya dunia marketing kita. Sudah bangkrut akibat dijauhi pembeli, disuruh kampanye pula.
Yang membuat saya sedih, kampanye makan bakso gratis ini betul-betul dimanfaatkan para pejabat. Mereka begitu lahap memakan bakso yang disipakan para pedagang bakso yang sedang menghadapi kerugian dalam bisnis mereka. Maklum, gratis. Jika harus membayar, tentu sangat sedikit para pejabat yang membeli bakso untuk dimakan sedemikian lahap. Tidak sedikit pula pejabat yang menyantap bakso bersama anak-bini mereka. Sekali lagi, maklum gratis.
Bagi saya, kampanye makan bakso gratis tidak perlu dilakukan. Itu tidak akan berpengaruh terhadap pasar dan penjualan bakso sendiri. Setiap ada yang gratis pasti akan disantap dengan lahap oleh yang diberi. Ketika kampanye ini digelar, ribuan orang dengan riang gembira memakan bakso yang pasti dijamin halal, tak berformalin, tak pakai boraks dan tak pakai daging tikus itu.
Mengapa orang takut dengan formalin, zat yang bisa mengawetkan itu. Dalam banyak ilmu kesehatan, pada kadar tertentu formalin dapat menyebabkan kanker, tumor dan banyak penyakit lainnya. Tapi ada juga yang menyangkalnya, formalin dalam makanan pada waktu 1-2 menit sudah dicerna dan tidak berbahaya.
Saya tidak bermaksud memperdebatkan isu formalin itu. Biarlah kajian ilmiah formalin bagian dari tugas para peneliti dan ahli kimia serta kedokteran kita.
Logika sederhana, semakin banyak pengawet dalam tubuh manusia, maka akan semakin awet manusia itu. Suatu saat, jangan aneh kalau banyak jasad-jasad manusia yang bisa diklaim seperti Fira'un. Bukankah Indonesia akan makin terkenal karena banyak ditemukan fosil yang mirif Fir'aun.
Pada beberapa hal banyak orang yang menyukai pengawet. Lihat saja iklan obat alat vital pria, slogannya agar rumah tanga harmonis dan awet. Penjual obat dan kecantikan wanita banyak membawa isu kecantikan yang lebih lama dan awet muda.
Tak terkecuali jabatan, setiap orang banyak yang menginginkan bertahan pada jabatan yang lama. Agar tetap awet, banyak cara ditempuh orang. Mulai dari yang masuk akal seperti lotal dan bekerja keras (menjilat pada atasan juga banyak, lho) sampai pada urusan mistik, seperti datang ke dukun dan lainnya.
*
Saya tiba-tiba teringat sebuah kisah klasik. Konon, sebelum menjadi kota, Banjarbaru dulu juga adalah kawasan pemukiman yang tak tertata dengan baik. Rumah dan kuburan menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan. Warga tidak perlu bersusah-susah menziarahi pemakanan, cukup dipekarangan saja. Karena kebanyakan orang meninggal di kubur di dekat rumah.
Namun, begitu penataan kota mulai menjadi kebutuhan, kuburan-kuran seperti itu mulai ditertibkan. Dalam pemindahan kuburan-kuburan tersebut, ada sebuah cerita unik. Salah satu kuburan --sebut saja-- si Fulan, yang segera dipindah ke pemakanan umum, jasadnya sangat utuh. Padahal, jasadnya sudah dikuburkan puluhan tahun.
Seperti dalam senetron religius di beberapa stasiun teve kita, tubuh utuh si Fulan ini menjadi perdebatan warga. Banyak yang mengira bahwa si Fulan ini suka membaya ayat-ayat Alquran, sehingga tubuhnya tidak dimakan tanah.
Ketika masalah ini ditanyakan kepada istrinya, sang istri justru bingung. Seperti kebanyakan, si Fulan ini tidak terlalu rajin beribadah. Namun, sang isti menyebut keanehan si Fulan justru pada pola makan dalam kesehariannya.
"Memangnya, pola makan Pak Fulan bagaimana?" seorang warga bertanya. "Amarhum sangat suka makan ikan asin dicampur tahu dan bakso ," jawab istri si Fulan.***
Posted at 07:12 pm by afoez
Permalink
Monday, January 16, 2006
Sepekan di Lokasi Banjir Bandang, Jember; Belajar Memahami Sisi Kemanusiaan

Banjir bandang yang terjadi di desa Kemiri, kecamatan Panti, Jember pada Senin, dini hari awal tahun itu telah menguak peran manusia terhadap kelestarian alam. Media massa memberitakan bahwa banjir tersebut terjadi disebabkan karena hutan gundul akibat penebangan liar.
Tapi pemerintah melalui Imam Utomo, Gubernur Jatim membantahnya. Belakangan, pernyataan itu diluruskan menjadi hutan beralih fungsi menjadi kebun kopi. Sehingga tidak cukup kuat menahan arus air yang tiba-tiba datang.
Saya tidak mempolemikkan penyebab banjir. Selama sepekan saya bersama relawan dari Radar Banjar Peduli (RBP) berada di lokasi itu membuat saya merasa lebih memahami sisi kemanusiaan. Mengapa? Dalam setiap bencana, polemik kepentingan tampak lebih berperan ketimbang memberikan bantuan taktis kepada para korban.
Sepanjang waktu itu, kondisi korban yang sangat memprihatinkan justru menjadi jargon politik bagi parpol untuk menarik simpati dan promosi. Hampir seluruh parpol, khususnya menjelang kunjungan presiden SBY, mendirikan posko. Beberapa hari kemudian posko itu sekadar perang spanduk tanpa ada orang yang benar-benar berkeinginan membantu para korban.
Satu-satunya partai politik yang mengirimkan kadernya untuk bekerja menolong masyarakat seperti evakuasi, perbaikan infrastruktur, bikin dapur umum dan lain-lain adalah Posko Penanggulangan Bencana (P2B) Partai Keadilan Sejahtera. Tak kurang tiga ratus kader yang bekerja maksimal selama penanganan bencana alam di sana. Angka itu tidak termasuk puluhan akhwat yang menjadi relawan di dapur umum. Saya betul-betul tidak melihat kader dari partai politik lain yang menggunakan baju kebesaran partai mereka dalam menangani bencana alam ini.
Begitu juga aparat pemerintahan. Tim RBP hanya sekali bertemu orang yang berbaju dinas PNS dari Dinas Sosial, itu pun di posko yang terletak kurang lebih 5 KM dengan lokasi bencana banjir bandang.
Memang lokasi bencana sering kedatangan pejabat dan para politisi. Tapi mereka sekadar berkunjung. Tidak banyak yang mereka lakukan selain melihat-lihat, tapi bersikap seperti seorang yang sangat peduli.
Kedatangan mereka tak ubahnya seperti para pelancong yang jumlahnya ribuan orang. Sekadar melihat-lihat. Bagi relawan, kedatangan pejabat dan pelancong yang berjumlah ribuan orang itu sangat mengganggu. Pejabat yang datang dengan pengawalan khusus sama menyulitkankannya dengan pelancong yang memadati jalan. Tugas utama untuk menolong korban menjadi terkendala.
Tokoh politik yang datang tanpa pengawalan khusus lagi-lagi dari PKS, Tifatul Sembiring. Presiden partai itu datang dengan jalan kaki yang datang seperti warga di desa Kemiri. Sehingga banyak orang yang tidak mengetahui kedatangannya. Bupati Jember, MZA Djalal juga datang tanpa pengawalan, sering menggunakan motor jenis trail.
Selama sepekan banjir, Satkorlak yang dibentuk pemerintah juga tidak optimal. Satkorlak sama sekali tidak berperan menjadi koordinator relawan yang datang untuk memberikan pertolongan di lokasi bencana itu.
Koordinasi antar relawan justru dicetuskan Sekretaris RBP, Yohandromeda Syamsu yang melihat para relawan kehilangan arah akibat jalan sendiri-sendiri. Dengan usulan dibentuknya Paguyuban Relawan Bencana Alam Jember. "Kalau kita sebut konsursium itu tidak etis di masyarakat sini, jadi lebih baik paguyuban," kata Yohan.
Begitulah, kordinasi penanganan bencana yang terjadi di desa Kemiri, kecamatan Panti, Jember. Kondisi bencana alam tersebut juga cendrung menjadi komoditas politik dan kepentingan.
Saya tiba-tiba teringat dengan banyaknya kondisi hutan dan pegunungan di daerah kita yang menjadi gundul. Penebangan hutan dan penambangan liar yang merajalela dan tak terkendali pasti akan memunculkan bencana alam serupa. Tinggal menuggu waktu kapan bencana itu akan datang.
Mulai sekarang, mari kita bangun kepedulian untuk menghindarkan masyarakat dari korban yang lebih menyedihkan.***
Posted at 05:34 pm by afoez
Permalink
|